Merawat Makna Pendidikan yang Kian Sunyi

  • May 02, 2026
  • Muhyiddin
  • Opini

Oleh: Dr. Ramdanil Mubarok

Setiap 2 Mei, kita kembali memperingati Hari Pendidikan Nasional. Upacara digelar, kutipan bijak dihidupkan kembali, dan nama Ki Hajar Dewantara disebut dengan penuh hormat. Momentum tersebut selalu menghadirkan ruang jeda. Sejenak kita menengok kembali makna pendidikan yang selama ini kita jalani.

Dalam praktiknya, pendidikan tidak selalu mudah dimaknai secara utuh. Di banyak ruang, proses belajar kerap dihadapkan pada tuntutan capaian yang terukur angka, nilai, dan berbagai indikator formal yang membantu menilai perkembangan. Di satu sisi, hal itu penting sebagai penanda. Namun di sisi lain, ada kekhawatiran bahwa makna pendidikan yang lebih mendalamseperti: pembentukan cara berpikir, kepekaan, dan kematangan sikap perlahan terpinggirkan.

Sering kali, keberhasilan pendidikan diidentikkan dengan simbol-simbol yang tampak, seperti seragam, ijazah, atau gelar. Semua itu tentu memiliki arti, tetapi tidak selalu sepenuhnya mencerminkan proses menjadi manusia yang utuh. Ada ruang yang lebih sunyi dalam pendidikan. Ruang di mana seseorang belajar memahami diri, mengasah nalar, dan menumbuhkan empati yang tidak selalu terukur, tetapi justru menentukan arah kehidupan.

Di tengah perkembangan zaman yang bergerak cepat, tantangan tersebut terasa semakin nyata. Akses terhadap informasi semakin luas, tetapi kedalaman pemahaman tidak selalu berjalan seiring. Dalam konteks ini, pendidikan memerlukan lebih dari sekadar penyampaian pengetahuan; ia membutuhkan kehadiran yang membimbing, memberi teladan, sekaligus membuka ruang bagi pertanyaan dan kemungkinan.

Tentu, berbagai upaya untuk menghadirkan pendidikan yang lebih bermakna terus tumbuh di banyak tempat. Praktik-praktik pembelajaran yang mendorong kebebasan berpikir dan penghargaan terhadap keunikan semakin terlihat, meski belum sepenuhnya menjadi arus utama. Di sinilah refleksi menjadi hal yang penting agar arah yang dituju tidak sekadar berhenti pada pencapaian lahiriah, tetapi juga menyentuh dimensi batiniah pendidikan.

Pemikiran Ki Hajar Dewantara sejak awal menempatkan pendidikan sebagai proses yang memerdekakan. Memerdekakan bukan dalam arti tanpa arah, melainkan memberi ruang bagi setiap individu untuk berkembang sesuai kodratnya, dengan tetap berakar pada nilai dan kebijaksanaan. Gagasan tersebut terasa tetap relevan, bahkan di tengah perubahan zaman yang begitu cepat.

Maka, Hari Pendidikan Nasional dapat dimaknai bukan hanya sebagai perayaan, melainkan sebagai pengingat yang tenang. Bahwa pendidikan adalah proses panjang yang tidak selesai dalam satu waktu. Ia hidup dalam keseharian, dalam interaksi, dan dalam kesediaan untuk terus belajar.

Pada akhirnya, pendidikan tidak semata diukur dari seberapa sering ia diperingati, tetapi dari seberapa jauh ia membentuk manusia menjadi pribadi yang mampu berpikir jernih, bersikap bijak, dan hadir secara utuh di tengah kehidupan.